Sabtu, 04 Juli 2020

Analisa Sederhana Pengakuan Iman Westminster (1647) Bab 19

Sebagai salah satu Pengakuan Iman Westminster yang hadir pada tahun 1647. Dan terus diharapkan untuk dapat melayani gereja yang ada di abad ke-21. Berikut merupakan analisa yang disandur dalam buku karya G. I. Williamson berjudul Pengakuan Iman Westminster yang ada di website Momentum. Jadi jika ingin membaca details lebih lengkapnya alangkah baiknya untuk membuka dan membeli di website Momentum.

Westminster
Westminster
Gambar oleh Adam Derewecki dari Pixabay -- Westminster

Sebelumnya merupakan Analisa Sederhana Pengakuan Iman Westminster (1647) Bab XVIII.

Berikut di bawah ini Analisa sederhana dari Pengakuan Iman Westminster Bab XIX mengenai Hukum Taurat Allah

Bab XIX Hukum Taurat Allah

1. Allah memberikan kepada Adam suatu Hukum Taurat sebagai suatu kovenan kerja, di mana dengan Hukum Taurat tersebut Allah mengikat Adam dan semua keturunannya kepada ketaatan yang bersifat pribadi, menyeluruh, pasti, dan terus-menerus; menjanjikan kehidupan bagi mereka yang memenuhinya dan mengancam dengan hukuman maut bagi mereka yang melanggar; dan Allah mengaruniakan kuasa dan kemampuan untuk menaatinya.
2. Setelah kejatuhan Adam, Hukum Taurat ini tetap merupakan aturan yang sempurna tentang kebenaran, dan demikianlah yang disampaikan oleh Allah di atas Gunung Sinai, di dalam Sepuluh Perintah, dan dituliskan pada dua loh batu: empat Perintah pertama berisi kewajiban kita terhadap Allah, dan enam Perintah lainnya berisi kewajiban kita terhadap sesama manusia.

Analisa Bab XIV artikel 1 - 2
Bagian Pengakuan Iman ini mengajarkan kepada kita :
  1. bahwa Hukum Taurat Allah merupakan standar bagi ketaatan sempurna yang diberlakukan oleh Allah kepada Adam pada saat penciptaan;
  2. bahwa tuntutan Hukum Taurat Allah besifat absolut, dan:
  3. bahwa Hukum Taurat ini, yang tuntutannya tidak pernah berakhir pbagi semua manusia di mana pun, diwahyukan secara ringkas (melalui prinsip-prinsip umum) pada dua loh batu yang diberikan di atas Gunung Sinai.

3. Selain Hukum Taurat ini, yang umumnya disebut hukum moral, Allah berkenan untuk mengaruniakan kepada bangsa Israel, sebagai gereja awal, hukum-hukum ibadah yang berisi sejumlah ketetapan yang bersifat simbolis, sebagian untuk ibadah yang menggambarkan Kristus, anugerah-anugerah-Nya, tindakan-tindakan-Nya, penderitaan-penderitaan-Nya, dan manfaat-manfaat dari-Nya; dan sebagian mengemukakan beragam pengajaran dan kewajiban moral. Semua hukum ibadah sekarang telah dibatalkan di bawah Perjanjian Baru.
4. Bagi bangsa Israel sebagai suatu badan politik, Allah juga mengaruniakan dari semula, hukum-hukum yudisial, yang mana telah berakhir bersamaan dengan kondisi bangsa Israel tersebut. Pada saat ini Allah tidak mewajibkan hukum yudisial kepada bangsa lain melebihi keadilan umum yang diharuskan oleh hukum tersebut.
5. Hukum moral mengikat semua orang untuk selamanya, baik terhadap orang-orang yang dibenarkan maupun yang tidak, untuk taat kepada hukum moral tersebut, dan ketaatan ini bukan hanya dikarenakan perihal-perihal yang terkandung di dalam hukum moral tersebut, tetapi juga dikarenakan otoritas Allah Sang Pencipta, yang mengaruniakan hukum moral ini. Kristus di dalam Injil tidak membatalkan kewajiban untuk mentaati hukum moral ini, melainkan meneguhkannya.

Analisa Bab XIX artikel 3 - 5
Bagian Pengakuan Iman ini mengajarkan kepada kita 
  1. bahwa Allah memberikan hukum ibadah kepada bangsa Israel (sebagai hukum tambahan dan berbeda dari hukum moral) yang terdiri dari tipe-tipe dan simbol-simbol dari (a) Kristus dan karya penebusan-Nya, dan (b) Roh Kudus dan karya-Nya dalam penerapan penebusan;
  2. bahwa sekarang hukum ibadah itu telah dibatalkan;
  3. bahwa Allah juga memberikan kepada bangsa Israel hukum sipil yang telah diakhiri oleh theokrasi, tetapi;
  4. bahwa hukum moral tetap efektif (dan dipahami di bawah dipensasi Perjanjian Lama bahwa memang akan demikian).

6. Meskipun orang-orang percaya sejati tidak lagi berada di bawah Hukum Taurat sebagai suatu kovenan kerja yang dengannya mereka dibenarkan atau dihukum, akan tetapi Hukum Taurat ini tetap bermanfaat besar bagi mereka dan juga bagi orang yang belum percaya, di mana sebagai suatu aturan hidup, Hukum Taurat memberitahukan kepada mereka kehendak Allah, dan kewajiban-kewajiban mereka; Hukum Taurat mengarahkan dan mengikat mereka untuk berjalan selaras dengannya, untuk menemukan kecemaran dosa di dalam natur, hati, dan hidup mereka, sehingga dengan memeriksa diri mereka sendiri, mereka bisa lebih yakin tentang adanya dosa, menjadi malu karena dosa, dan benci terhadap dosa; dan bersamaan dengan itu juga memberikan suatu pemandangan yang lebih jelas akan kebutuhan mereka akan Kristus, dan kesempurnaan ketaatan-Nya. Hukum Taurat ini bermanfaat bagi mereka yang telah dilahirbarukan untuk menahan kerusakan mereka, di mana Hukum Taurat melarang dosa; dan ancaman Hukum Taurat terhadap dosa menunjukkan ganjaran yang tidak layak diterima oleh dosa mereka dan penderitaan-penderitaan yang siap menanti mereka jika melakukan dosa-dosa itu, meskipun mereka telah terbebas dari kutuk yang diancamkan di dalam Hukum Taurat itu. Sebaliknya, janji dalam Hukum Taurat itu menunjukkan kepada manusia pujian Allah bagi ketaatan dan berkat-berkat apa yang boleh mereka harapkan dengan menanti hukum Taurat tersebut, walaupun hal ini tidak diberlakukan lagi oleh Hukum Taurat sebagaimana yang diberlakukannya dalam kovenan kerja. Akan tetapi ketika seseorang melakukan yang baik dan tidak melakukan yang jahat, karena Hukum Taurat mendorongnya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kejahatan, bukanlah bukti bahwa dia berada di bawah Hukum Taurat, dan bukanlah di bawah anugerah.
7. Tetapi satu pun manfaat Hukum Taurat yang disebutkan diatas yang bertentangan dengan anugerah Injil, sebaliknya semua manfaat Hukum Taurat itu dengan indah selaras dengan anugerah Injil. Roh Kristus menundukkan dan memampukan kehendak manusia untuk melakukan secara bebas dan dengan sukacita semua kehendak Allah yang diwahyukan di dalam Hukum Taurat yang wajib dilakukan


Analisa Bab XIX artikel 6 - 7
Bagian Pengakuan Iman ini mengajarkan kepada kita :
  1. bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya tidak berada "di bawah Hukum Taurat" sebagai kovenan keselamatan
  2. tetapi orang percaya berada "di bawah" Hukum Taurat sebagai (a) aturan praktis, (b) sarana untuk mengetahui dosa-dosa mereka dan karenanya kebutuhan akan Kristus, dan (c) pernyataan kesempurnaan Kristus;
  3. bahwa Hukum Taurat ini juga bekerja di dalam diri orang yang tidak percaya (a) untuk mengekang, (b) untuk memperingatkan dan (c) untuk menyatakan Allah kepada mereka;
  4. bahwa "tindakan manusia melakukan yang baik dan tidak melakukan yang jahat, karena Hukum Taurat mendorong manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari kejahatan, bukankah merupakan bukti bahwa orang itu berada di bawah Hukum Taurat, dan tidak berada di bawah anugerah", dan;
  5. bahwa kegunaan-kegunaan Hukum Taurat tidak bertentangan dengan Injil anugerah, sebaliknya merupakan hal yang esensial bagi Injil.

Next Lanjut pada Analisa Sederhana Pengakuan Iman Westminster Bab XX.

Sumber :
Williamson, G. I. 2017. Pengakuan Iman Westminster. Surabaya: Momentum.

Sumber gambar :
Gambar oleh Adam Derewecki dari Pixabay -- Westminster